15/11/2015
Dua hari yang lalu dunia dikejutkan dengan sebuah ledakan bom di kota Paris, Perancis. Di saat yang sama sedang berlansung pertandingan persahabatan antara Jerman melawan Perancis yang berakhir untuk kemenangan Jerman 2-0. Derita Perancis ditambah dengan adanya ledakan bom yang merenggut 129 jiwa dan ratusan luka-luka. Dunia seketika mengarahkan pandangan ke kota mode ini. Media-media internasional mainstream tidak henti-hentinya mengabarkan berita ini. Tidak kalah media nasional Indonesia juga turut ambil bagian. Bahkan jejaring sosial media facebook menyediakan fasilitas mengganti foto profil dengan nuansa bendera Perancis. Tak mau ketinggalan Youtube juga mewarnai logonya dengan warna bendera Napoleon Bonaparte.Sampai hari ini dukungan untuk Paris terus mengalir. Bahkan begitu banyak yang mengganti foto profil dengan bendera Perancis. Hashtag PrayForParis pun mencuat. Hari ini seolah dunia baru diajari tentang arti terorisme. Tentang arti sebuah pembantaian. Tentang arti teroris (lagi). Berita mengalir setiap sekian menit mengabarkan dan mem-blow up kondisi pasca penyerangan. kondisi yang terjadi saat ini. Bahkan anak-anak muda Indonesia pun tak lepas dari “magnet” yang ditimbulkan pasca kejadian ini. Dunia berduka! Mungkin itu yang diharapkan banyak orang. Maka, bolehlah kami juga mengatakan bahwa kami lebih berduka! Tragedi ini membuat darah kami mendidih. Telinga kami memerah. Mata kami hampir tak kuasa menahan tetesan airnya. Emosi kami menggelora. Tragedi ini (semakin) menyayat hati kami.Tapi itu semua bukan untuk sekedar Paris!! Betapa kami tidak tersayat ketika secara membabi buta Islam kembali dihinakan seperti ini untuk kesekian kali. Di saat yang bersamaan pada hari itu sudah berlangsung 44 hari intifadhah ketiga. Bukan dua hari tapi 44! Kalian mau tau berapa yang sudah syahid? 84 jiwa! Yang mana tidak sedikit diantaranya adalah anak-anak dan wanita. Berapa yang luka? Bukan ratusan. Tapi ribuan! Ada lebih dari 9500 orang. Belum termasuk yang dipenjarakan. Ini baru yang terhitung selama intifadhah 3. Lalu apakah kalian bisa menghitung sejak awal pembantaian ini dilakukan?! Ini juga baruPalestina. Masih ada Suriah, Mesir, Etnis Rohingya, sebagian etnis Afrika dan masih banyak lagi. Apa kalian bisa menghitung!!!Di tanah air kita sendiri umat Islam di beberapa daerah juga ditindas. Memori kami yang masih hangat tentang Tolikara sudah dipanasi lagi dengan kasus Bitung. Belum lagi pen*staan terhadap Islam di berbagai media. Betapa hati ini tidak tersayat. Ini bukan suara provokasi. Tapi ini adalah suara hati yang menjerit tak bisa berbuat apa-apa. Mungkin hanya air mata yang bisa kami berikan. Hanya doa yang bisa kami haturkan.Sadarlah kawan, bahwa otak di balik tragedi Paris (yang mungkin gagal dengan episode Charlie Hebdo) tidaklah berbeda jauh dengan sutradara pembantaian Palestina, Suriah, Mesir dan yang lainnya. Bertanyalah kenapa selalu ada paspor Islam dalam setiap peristiwa pengeboman. Apakah sudah ada paspor anti bom? Bahkan bom yang melelehkan tiang penyangga WTC. Bertanyalah kenapa media (terutama media barat) tidak memberitakan tragedi kemanusiaan di Palestina, Suriah, Mesir, Etnis Rohingya dan yang lainnya setidaknya seperti mereka memberitakan 9/11 maupun Paris Attack. Bertanyalah kenapa predikat teroris hanya untuk yang ber-KTP Islam terlebih berjenggot, jidat hitam, dan sebagainya. Bukalah kembali memorimu tentang rencana bom di mall Alam Sutera, Tangerang. Siapa pelakunya dan apakah dia didakwa teroris?Apakah umat Islam tidak layak mendapat rasa kemanusiaan? Jika memang kalian hanya terbangun ketika ada kejadian seperti ini dan seolahmenutup mata terhadap saudara kalian sendiri, maka dengarkanlah! Kami juga tidak butuh dukungan dan rasa kemanusiaan dunia karena bagi kami cukuplah Allah sebagai penolong! Cukuplah Allah sebagai pemberi jaminan jiwa kami! Kami adalah jiwa-jiwa yang saling terikat dengan saudaranya walau kami belum pernah bertemu. Kami adalah muslim yang membenci teror. Yang mengutuk pembantaian, apalagi terhadap anak-anak dan wanita. Kami adalah muslim yang mencintai perdamaian. Karena begitulah RasulullahSAW mengajarkan kami. Tetapi kami tidak akan tinggal diam ketika Islam ditindas. Ketika Islam dihinakan. Ketika kehormatan Islam diinjak-injak. Kami akan membela!● Media FSLDK Indonesia.