01/02/2019
"KECUALI IBLIS DAN SETAN, SEMUANYA BISA DITERIMA"
Judul diatas diambil dari pernyataan Hashim Djojohadikusumo terkait keterbukaan kubunya terhadap eks PKI. Apakah Hashim tidak sadar sejarah bahwa ayahnya ikut memberontak sampai kabur keluar negeri demi melawan komunis?
Salah satu alasan pemberontakan PRRI/Permesta adalah melawan pengaruh komunis. Soemitro terlibat, bahkan berperan sebagai kontak penghubung dengan luar negeri, terutama dengan Amerika. Jutaan dolar dana bantuan digelontorkan lewat dirinya. Amerika waktu itu (hingga hari ini) sangatlah berhasrat mengkapitalisasi Indonesia yang belum lama merdeka dari kolonialis. Bagi Amerika, hengkangnya kolonial merupakan kesempatan untuk mengeruk kekayaan negeri ini.
Kemudian kita tahu PRRI/Permesta gagal. Soemitro bersama seluruh keluarganya lari keluar negeri. Bertahun-tahun lamanya hidup dalam pengasingan sampai Soeharto naik menjadi presiden. Oleh Soeharto, Soemitro diberi amnesti dan diberi jabatan menteri. Selain itu, Soemitro juga mengkader mahasiswanya, terutama dalam bidang pemikiran ekonomi.
Hasilnya adalah lahirnya kelompok ekonom 'Mafia Berkeley' yang sangat pro Amerika dan modal asing. Ekonomi Orde Baru dirancang oleh mereka, dan akibatnya sekarang banyak perusahaan raksasa asing yang menggurita di negeri ini.
PKI telah wafat sejak 1965. Tetapi kita tahu kroni-kroni Orba merupakan pihak-pihak yang paling diuntungkan dari huru-hara politik '65, dan Soemitro salah satunya. Menyelam sambil minum air, semangat anti komunis rupanya dipergunakan juga untuk kepentingan pribadi dan kroni, yang tak lain kepentingan politik ekonomi. Semangat yang tidak murni.
Dengan demikian patut kita curiga dengan pernyataan Hashim karena keterbukaan dengan eks komunis bukanlah garis politiknya, terutama sikap ideologis bapaknya sendiri. Jelas sekali Hashim ingin kubunya menang belaka. Kebohongan besar bila ia menyebut 'Pancasilais', tidak ada dalam genetik ideologi eks pemberontak yang mengamini Pancasila. Bila mengamini tentu tak memberontak bukan?
Jangan-jangan isu bahwa PKI bangkit kembali, kubu mereka yang diam-diam menghembuskan. Meniru patron-patronnya yang sukses selama Orde Baru, dengan politik dikotomi bernada represif: ikut kami atau kami setanisasi dengan label komunis. Pernyataan Hashim jelas kode politis: bila anda tak ingin disebut komunis, bergabunglah dengan kami.