23/03/2026
Kadang, yg paling melelahkan bukanlah hidup itu sendiri,melainkan bgmn hidup kita dinilai oleh orang lain.
“He's so lucky!”
Kalimat itu terdengar ringan,
seolah semua yg terjadi adalah hadiah tanpa usaha.
Padahal, dlm diam ada banyak hal yg tdk pernah mereka lihat.
Dlm hati, sering kali hanya bisa menjawab pelan:
“He'snt lucky. He's blessed.He works hard to get everything he wants.”
Tak ada yg benar2 instan!
Di balik sesuatu yg terlihat “enak”,
ada hari2 panjang yg diisi dgn lelah, waktu yg dikorbankan,tenaga yg diperas,perasaan yg ditahan… sendirian.
Apa yg terlihat nyaman,dimiliki,tdk semua orang tahu berapa banyak yg hrs ia lewati.
Dari pagi hingga malam,dari hari kerja sampai hari libur, tetap berjalan,tetap bertahan.
Ada yg dibilang “difasilitasi”,
padahal di dlmya ada tuntutan untuk terus layak berada di sana.
Hrs trs belajar,trs berkembang,
trs membuktikan bahwa dirinya pantas.
Dan tentang tinggal bersama orang tua,
yg sering dianggap paling ringan,
justru sering menjadi tempat di mana banyak hal dipikul tanpa suara.
Tanggung jawab yg tidak terlihat,
emosi yg tdk selalu bisa dibagi.
Namun semua itu jarang sekali dijelaskan.
Bukan karena tak ingin dimengerti,tapi karena tdk semua orang benar2 peduli untuk memahami.
Dan bahkan…
ketika seseorang memilih untuk tetap memberi, tetap berbagi,itu pun tdk selalu membuatnya lepas dari penilaian.
Ada saja yg berkata,
“Kurang banyak…”
“Cuma segitu…”
“Harusnya bisa lebih…”
Seolah kebaikan tdk pernah cukup.
Seolah memberi adalah kewajiban tanpa batas.
Padahal,yg memberi pun sedang berjuang.
Yg berbagi pun punya lelahnya sendiri.
Apa yg ia ulurkan, sering kali adalah hasil dari simpanan,bukan dari kelimpahan.
Namun tetap saja,itu dipertanyakan.
Tetap saja, itu dibandingkan.
Di titik itu,kita belajar…
bahwa tdk semua hal harus dijelaskan,
& tdk semua orang harus dipuaskan.
Hingga akhirnya kita memilih untuk tetap melangkah,tanpa perlu membuktikan apa2 pada siapa pun.
"Apa yang terlihat mudah di matamu,
adalah hasil dari hal-hal sulit yang tidak pernah kamu lihat.”
Krn pada akhirnya,bukan soal terlihat beruntung atau tdk tapi ttg seberapa tulus kita tetap menjadi diri sendiri,bahkan ketika tdk pernah dimengerti.